DESI ANA

HIDUP AKAN LEBIH INDAH JIKA MAU SALING BERBAGI

Tentang Yogyakarta Desember 26, 2011

Filed under: LAPORAN KKL — desiana91 @ 10:16 am

Meninggalkan Kota Bandung, rombongan KKl menuju Kota Yogyakarta. Kota yang terletak di daerah Jawa Tengah ini sangat terkenal dengan kemegahan candi-candi dan berbagai jenis batik yang merupakan warisan dan patut dilestarikan.

Objek pertama yang kami kunjungi adalah Keraton Yogyakarta yang terletak di pusat Kota Yogyakarta. Keraton Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat tinggal raja, namun juga menjadi penjaga kebudayaan Jawa. Di tempat ini anda dapat belajar dan melihat secara langsung kebudayaan Jawa yang terus hidup dan dilestarikan seiring dengan perkembangan yang terjadi. Suasana di Keraton Yogyakarta sangat sejuk dan tenang. Keraton diapit dua alun-alun yaitu Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan. Masing-masing alun-alun berukuran kurang lebih 100×100 meter. Sedangkan secara keseluruhan Keraton Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 1,5 km persegi. Bangunan inti keraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang lengkung yang disebut plengkung. Bagi pengunjung yang membawa kamera ataupun handphone kamera akan dikenakan karcis sebesar  Rp 1.000,00 perkamera.

Pengunjung yang berkeliling melihat suasana di dalam keraton akan dipandu oleh seorang pemandu yang bertugas di sana. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagian besar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang dilakukan oleh  Sultan Hamwngku Buwono VIII (bertahta tahun 1921-1939). Salah satu bangunan yang sangat penting fungsinya adalah Bangsal Kencana tempat raja memerintah. Di dekatnya terdapat Bangsal Prabayeksa yang berfungsi sebagai tempat menyimpan senjata-senjata pusaka keraton. Sedangkan Bangsal Srimanganti merupakan tempat yang digunakan untuk menggelar pentas pertunjukkan seni, misalnya tari klasik keraton, wayang kulit, dan sebagainya.

Ada banyak hal yang dapat disaksikan di Keraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas para abdi dalem atau melihat koleksi barang-barang Keraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan tersebut terbuat dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Di salah satu ruangan, perhatian saya tertuju pada sumur tua yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII. Di bibir sumur yang telah ditutup menggunakan sesuatu yang menyerupai jaring yang terbuat dari alumunium tersebut terdapat tulisan yang melarang pengunjung memasukkan uang. Dan saat saya melihat ke dalam sumur, ternyata di sana terdapat beberapa kepingan uang koin dan uang kertas yang tak beraturan. Mungkin peraturan tersebut dibuat agar suatu saat sumur tersebut tidak sampai terbanjiri dengan uang yang dilemparkan oleh pengunjung.

Dari semua koleksi yang ada di Keraton Yogyakarta, ada beberapa koleksi yang tidak boleh diambil gambarnya misalnya contoh batik asli buatan Keraton.  Larangan tersebut diberlakukan agar corak batik yang menjadi kebanggan Keraton tidak tersebar atau ditiru oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Luasnya Keraton Yogyakarta membuat saya dan beberapa teman melewati jalan yang salah dalam menemukan bus yang kami tumpangi. Berdasarkan pengalaman salah satu teman, untuk keluar dari kawasan Keraton harus melewati pintu keluar yang ada dan akan dapat menemukan bus di areal pintu keluar keraton. Tapi ternyata pengalaman yang ia dapatkan tidak sejalan dengan kenyataan karena bus tidak tampak di tempat yang ia maksudkan. Alhasil kami menggunakan jasa becak untuk sampai ke tempat bus yang ternyata berada di areal pintu masuk keraton. Walau ada perasaan sedikit tidak enak karena membuat peserta KKL lainnya menunggu, tetapi saya merasa cukup beruntung karena dengan mengambil jalan yang salah membuat saya dapat merasakan rasanya menaiki becak walaupun di tengah teriknya matahari.

***

Beralih dari Keraton Yogyakarta, objek wisata Candi Borobudur menjadi tujuan selanjutnya. Candi yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah ini merupakan candi Buddha terbesar di Indonesia.  Candi ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha  sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha.

            Sebelum memasuki areal Candi Borobudur, setiap penunjung diwajibkan untuk mengenakan kain/kamben yang telah disediakan di sana. Saat itu pengunjung di pandu oleh seorang pemandu yang menjelaskan sedikit tentang Candi Borobudur. Walaupun saat itu hujan turun ckup deras, tetapi kami tetap antusias untuk mengetahui informasi tentang candi yang pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia ini. Berdasarkan Informasi dari bapak pemandu, Candi Borobudur di bangun oleh para penganut agama Buddha Mahayana pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri Candi Borobudur yaitu Raja Samaratungga yang berasal dari wangsa atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun 824 M dan selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani yang adalah putri dari Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut kisah turun-temurun bernama Gunadharma.

Struktur bangunan candi dapat dibagi atas tiga bagian, yaitu: dasar (kaki), tubuh, dan puncak. Dasar berukuran 123×123 m dengan tinggi 4 m. Tubuh candi terdiri atas lima batur teras bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 m dari ujung dasar teras. Tiap teras berikutnya mundur 2 m menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun secara konsentris. Tangga dengan kemiringan 65 derajat  terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin yang membawa pengunjung menuju bagian puncak monumen melalui serangkaian gerbang pelengkung yang dijaga 32 arca singa.

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak yang terdiri dari 10 tingkat. Tinggi candi ini adalah 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Buddha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai kata Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Buddha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut. Pada bagian dasar Borobudur  disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Buddha bersemayam.

***

Tetesan hari hujan masih tetap menemani perjalanan kami sampai tiba di Hotel Brongto yang berada di kawasan Yogyakarta. Setelah membersihkan diri dan menikmati makan malam, kunjungi dilanjutkan menuju Marlioboro yang terkenal sebagai tempat berburu aneka jenis pakaian bermotif batik.

Waktu yang diperlukan agar sampai ke sana tidak lebih dari satu jam. Dari areal parkir tampak deretan pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan dan para pedagang kaki lima. Banyaknya pedagang yang menjajakan dagangannya di sisi kanan dan kiri jalan membuat kami berjalan berdesakan untuk menemukan barang yang kami cari. Harga barang yang tergolong murah membuat tempat ini menjadi salah satu alternative bagi para pengunjung dalam berburu batik.

Karena waktu yang diberikan telah habis, maka kami semua kembali menuju hotel untuk beristirahat dan menyiapkan segala keperluan untuk hari esok.

***

            Keesokan harinya kami mengunjungi objek wisata Candi Prambanan yang terletak di perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah  dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi yang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan  Klaten ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Sama halnya seperti Candi Borobudur, Candi ini juga memiliki nilai sejarah yang penting. Keberadaan candi yang disebut juga dengan Candi Rorojongrang ini erat kaitannya dengan kisah Bandung Bondowoso dan Rorojongrang.

Dari kejauhan tampak kemegahan kompleks candi yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang menambah kerindangan di sana. Perlu beberapa menit untuk berjalan dari areal parkir bus munuju ke dekat Candi Prambanan. Candi Prambanan adalah bangunan megah yang dibangun dengan ketinggian 47 m pada abad ke-10 pada masa pemerintahan dua raja, yaitu Rakai Pikatan dan Rakai Balitung. Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil. Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada Sang Hyang Trimurti, yaitu : Bhatara Siwa sebagai Sang Pelebur, Bhatara Wisnu sebagai Sang Pemelihara dan Bhatara Brahma sebagai Sang Pencipta.

Candi Siwa terletak di tengah-tengah dan memuat empat ruangan. Ruangan pertama memuat sebuah arca Bhatara Siwa setinggi tiga meter dan tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga yang merupakan sakti atau istri Batara Siwa, Rsi Agastya yang merupakan guru dari Bhatara Siwa, danGanesha yang merupakan putra dari Bhatara Siwa. Arca Durga juga disebut sebagai Rorojongrang oleh penduduk setempat. Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya lagi dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini yang merupakan wahana Bhatara Siwa, sang Angsa yang merupakan wahana Bhatara Brahma dan sang Garuda yang merupakan wahana Bhatara Wisnu. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukuran yang berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu lingga Bhatara Siwa sebagai lambang kesuburun.

Setelah berkeliling kurang lebih satu setengah jam, saya dan semua peserta KKl kembali ke bus dan melanjutkan perjalanan menuju pusat oleh-oleh makanan khas Yogyakarta. Di sana tersedia berbagai macam jajanan khas Yogyakarta, seperti yangko, dodol garut, bakpia dan beberapa jenis keripik. Selain itu di sana juga diperlihatkan cara dan proses pembuatan bakpia yang di lakukan oleh beberapa orang yang mengenakan pakaian khas daerah Yogyakarta.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

***

            Demikian perjalanan saya dan peserta KKl lainnya dalam mengunjungi berbagai objek wisata di daerah Jawa. Bus kembali melaju membawa kami untuk menyebrang di keesokan hari dan sampai di tempat awal penjemputan pada tanggal 18 desember 2011.

Berdasarkan hasil pengamatan saya selama berkunjung di beberapa objek yang ada di Yogyakarta ada beberapa hal yang terkait dengan pembelajaran matematika, antara lain :

1)      Perhitungan luas keseluruhan Keraton Yogyakarta yang mencapai 1,5 km persegi dan luas dasar Candi Borobudur seluas 123×123 m.

2)      Pengukuran tinggi candi Borobudur setinggi 42 m sebelum direnovasi, tembok ganda yang membentengi keraton setinggi 3,5 m dan tinggi candi Prambanan setinggi 47 m.

3)      Tangga dengan kemiringan 65 derajat yang terletak pada bagian tengah keempat sisi mata angin pada Candi Borobudur. ( terkait dengan materi trigonometri)

4)      Enam tingkat paling bawah bagian Candi Borobudur yang berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran serta tembok ganda yang membentengi keraton yang juga berbentuk bujur sangkar. ( terkait bentuk bangun datar)

5)      Perhitungan jumlah kuil pada kompleks Candi Prambanan sebanyak 8 kuil dan 250 candi kecil.

 

Jangan Lupa Comentnya yah kawand :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s