DESI ANA

HIDUP AKAN LEBIH INDAH JIKA MAU SALING BERBAGI

Januari 7, 2012

Filed under: REFLEKSI — desiana91 @ 2:54 pm

REFLEKSI KELOMPOK 6
NAMA : NI LUH DESI ANA
NPM : 09.8.03.51.30.15.1462
SEMESTER : IV

ALIRAN PSIKOLOGI KOGNITIF

Kognitif merupakan kemampuan berfikir anak yang berupa perhatian, daya ingat, kemampuan belajar dan kreativitas. Setiap anak memiliki tingkat perkembangan kognitif yang bervariasi. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif pada anak, yaitu: (1) Tahap Sensori Motor (dari lahir sampai sekitar 2tahun), pada tahap ini seorang anak akan mulai mampu melambangkan objek fisik ke dalam simbol-simbol, misalnya mulai bisa berbicara meniru suara kereta api; (2) Tahap Pra Operasi (umur 2 tahun sampai sekitar umur 7 tahun), pada tahap ini seorang anak akan lebih banyak berfikir berdasarkan apa yang dilihatnya dibandingkan dengan pemikiran logis, sehimgga saat ia melihat sesuatu yang diamatinya berbeda ia akan mengatakan hal tersebut berbeda: (3) Tahap Operasi Konkret (umur sekitar 7 tahun sampai sekitar 11 tahun), umumnya anak pada tahap ini sudah berada di sekolah dasar, sehingga peran seorang guru sangat dibutuhkan dalam memahami kemampuan apa yang telah dikuasai dan yang belum dikuasai oleh seorang anak. Dalam menguasai materi terdapat beberapa tahapan pada anak sesuai dengan umurnya, yaitu pemahaman terhadap bilangan (umur 6-7 tahun), kemampuan memahami materi (umur 7-8 tahun), kemampuan menghitung panjang (umur 7-8 tahun), kemampuan menghitung luas (umur 8-9 tahun), kemampuan menghitung berat (umur 9-10 tahun) dan kemampuan menghitung volume ( umur 11-12 tahun); (4) Tahap Operasi Formal (dari sekitar umur 11 tahun dan seterusnya), tahap ini merupakan tahap akhir dalam perkembangan kognitif. Pada tahap ini seorang anak akan mampu untuk membayangkan sesuatu tanpa harus melihat langsung. Selain itu ia juga telah mampu untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan memahami beberapa hal terkait dengan masalah yang dipecahkan. Keempat tahapan tersebut hanya berlaku pada anak yang memiliki kemampuan normal. Sebagai orang tua sudah semestinya mengamati perkembangan kognitif pada anak agar dapat memberikan penanganan yang tepat jika ternyata perkembanagn kognitif anak tidak normal. Orang tua dapat mengetahui apakah perkembangan kognitif anak tersebut normal atau tidak dengan cara mencocokkan tahapan yang ada dengan umur anak. Jika ternyata seorang anak mengalami perkembangan kognitif yang berbeda, maka orang tua harus memastikan anak tersebut termasuk anak yang luar biasa plus atau anak yang luar biasa minus. Anak yang termasuk luar biasa plus dapat dibedakan menjadi anak nakal dan anak yang tidak nakal. Anak yang nakal sering disebut juga anak hiperaktif, yaitu anak yang cenderung melakukan kegiatan-kegiatan lebih banyak dibandingkan anak pada umumnya. Banyak orang yang salah dalam menanggapi sikap anak seperti ini, bahkan seperti yang pernah saya baca di koran seorang anak dipasung karena dinilai hiperaktif oleh keluarganya. Sebenarnya anak hiperaktif memiliki akal yang lebih dalam memecahkan suatu masalah dan menyampaikan ide-ide yang ada dalam dirinya dengan cara sendiri. Cara inilah yang seringkali tidak dapat dipahami dan disalahartikan oleh orang lain. Sedangkan anak yang tidak nakal cenderung bersikap lebih tenang dibandingkan dengan anak hiperaktif. Mereka umumnya pendiam dan hanya berbicara seperlunya saja. Walaupun sikap anak yang termasuk luar biasa plus ini berbeda, tetapi anak tersebut sama-sama memiliki IQ di atas anak pada umumnya atau termasuk anak yang cerdas. Orang tua yang telah mengetahui jika anaknya memiliki kemampuan yang lebih, sebaiknya memberikan suatu rangsangan dan dorongan agar anak dapat memaksimalkan kemampuan yang telah dimilikinya. Selain itu orang tua juga harus memberikan peluang bagi anaknya untuk menyampaikan pendapat. Anak dengan kemampuan luar biasa plus biasanya ditempatkan dengan anak yang berkemampuan setara dengannya, seperti dengan diadakannya kelas unggulan. Menurut saya cara ini kurang tepat karena akan dapat menumbuhkan perasaan iri pada anak yang memiliki kemampuan biasa. Akan lebih baik jika anak yang memiliki kemampuan luar biasa plus ditempatkan pada kelas akselerasi, sehingga anak akan dapat menjalani pendidikan yang lebih singkat setelah melalui beberapa tes yang memang benar-benar dilalui dengan kemampuannya sendiri. Berbeda dengan anak yang memiliki kemampuan luar biasa plus, anak dengan kemampuan luar biasa minus justru memiliki IQ dan kemampuan lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak normal. Saat menyadari anaknya mengalami perkembangan kognitif minus, orang tua tidak boleh putus asa dan harus bisa memotivasi anaknya agar tetap bisa menjalani hidup selayaknya anak normal. Anak yang memiliki kemampuan luar biasa minus dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berbahaya dan tidak berbahaya. Pengawasan yang lebih sangat diperlukan pada anak yang sering melakukan tindakan-tindakan berbahaya. Jika orang tua sudah tidak dapat memberikan pengawasan yang maksimal, seorang anak dapat dititipkan di rumah sakit jiwa (RSJ). RSJ tidak hanya sebagai tempat orang yang mengalami gangguan jiwa, melainkan juga dapat sebagai tempat pengawasan terhadap anak-anak yang dianggap berbahaya. Di RSJ anak dapat dilatih oleh para psikiater agar mampu menahan atau bahkan menghilangkan tindakan-tindakan berbahaya. Pada anak yang memiliki kemampuan luar biasa minus tidak berbahaya, orang tua dapat menyekolahkannya pada sekolah yang khusus mendidik anak seperti mereka, misalnya SLB (sekolah luar biasa). Pada pembelajaran di SLB bagi anak dengan keadaan seperti ini akan lebih menitikberatkan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi. Anak dengan kemampuan luar biasa minus cenderung akan lebih sulit diatur dan perkembangan pola pikirnya lebih lambat daripada anak-anak pada umumnya. Anak dengan kelainan seperti ini umumnya memiliki ciri-ciri fisik, yaitu cara bicaranya yang tidak normal, pandangannya yang sayu dan tingkah lakunya yang masih seperti anak kecil atau tidak sesuai dengan umurnya. Kemampuan penyelesaian mental yang kurang pada anak ini mengakibatkan kesulitan dalam menerima dan mengorganisasikan bahan yang akan dipelajari. Karena itulah sulit bagi anak untuk menangkap informasi secara kompleks. Walaupun keadaan anak dengan perkembangan kognitif minus jauh lebih rendah dibandingkan dengan anak normal, mereka tetap memiliki hak yang sama baik dari segi pendidikan, perhatian dan kasih sayang.

 

Jangan Lupa Comentnya yah kawand :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s