DESI ANA

HIDUP AKAN LEBIH INDAH JIKA MAU SALING BERBAGI

Konsep Psikologi, Sosiologi dan komunikasi Januari 7, 2012

Filed under: REFLEKSI — desiana91 @ 2:53 pm

REFLEKSI : KELOMPOK 1
NAMA : NI LUH DESI ANA
NPM : 09.8.03.51.30.15.1462
SEMESTER : IV

PEMANFAATAN KONSEP-KONSEP PSIKOLOGI, SOSIOLOGI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku tersebut adalah (1) perilaku motorik, yaitu perilaku dalam bentuk gerakan; (2) perilaku kognitif, yaitu perilaku dalam bentuk bagaimana individu mengenal alam sekitarnya (kemampuan berfikir); (3) perilaku afektif, yaitu perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi. Pendekatan utama yang digunakan dalam psikologi yaitu (1) pendekatan behaviorisme, menekankan hal-hal fisik yang kelihatan dari individu; (2) pendekatan psikoanalisa, menekankan pada hal-hal yang ada di bawah kesadaran individu; (3) pendekatan kognitif, merupakan proses penerimaan dan pengolahan suatu informasi untuk kemudian menghasilkan sesuatu; (4) pendekatan humanistik, menyatakan bahwa sejak awal manusia mempunyai keinginan untuk menonjolkan dirinya di masyarakat dan (5) pendekatan neurobiologi, menyatakan bahwa individu berperilaku berdasarkan kejadian di dalam otak dan syarafnya. Beberapa peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran adalah (1) memahami siswa sebagai pelajar, seorang pengajar (guru) semestinya mengetahui kondisi ataupun kemampuan siswanya agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif; (2) memahami prinsip dan teori pembelajaran; (3) memilih metode-metode pengajaran, dalam pelaksanaan proses pembelajaran pengajar sebaiknya memilih metode yang sesuai dengan kondisi kelas dan materi yang akan dibawakan; (4) menetapkan tujuan pembelajaran, seorang pengajar harus mengetahui tujuan dari penyampaian materi dan berusaha untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga dewasa. Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap serta dapat berupa tanggung jawab dan kerjasama. Menurut Sears (Maier 1978:138) “tujuan setiap individu ditentukan oleh interaksinya dengan orang lain, dan ia dilahirkan dengan kemampuan untuk belajar yang tidak terbatas”. Sears mengemukakan tiga tahap perkembangan perilaku, yaitu: (1) tahap 1, perilaku rudimenter yang berdasarkan pada kebutuhan dari dalam dan belajar perilaku awal pada masa bayi; (2) tahap 2, sistem motivasi sekunder yang berdasarkan pada pembelajaran berorientasi keluarga; (3) tahap 3, sistem motivasi sekunder yang berdasarkan pada pembelajaran di luar keluarga. Albert Bandura juga mengemukakan suatu teori pembelajaran sosial-kognitif atau teori pembelajaran melalui peniruan yang terjadi dalam tiga komponen, yaitu: perilaku model, pengaruh perilaku model dan proses internal pelajar. Durkeim mengartikan proses sosialisasi sebagai penyiapan secara metodologis atau sistematis para pemuda untuk kehidupan dewasa di masyarakat yang dapat dipelajari lewat pembentukan kelompok-kelompok tertentu. Masyarakat sekolah (warga sekolah) dapat dianggap sebagai contoh dalam kehidupan masyarakat luas dan proses pembelajaran merupakan hal yang erat hubungannya dengan proses sosialisasi. Seperti dalam kehidupan masyarakat luas, di sekolah juga terdapat kelompok yang sengaja dibentuk seperti organisasi sekolah ataupun pertemanan. Bowditch dan Buono mengemukakan terdapat lima kelompok dasar, yaitu: (1) kelompok primer atau sekunder, kelompok primer ditandai oleh hubungan interpersonal misalnya keluarga, sedangkan kelompok sekunder ditandai dengan adanya hubungan terkait tugas atau tujuan misalnya kelompok kerja; (2) kelompok formal atau informal, kelompok formal ditandai oleh hubungan yang terkait tujuan dan tugas sebagai bagian dari organisasi seperti kepengurusan desa, sedangkan kelompok informal ditandai dengan hubungan yang terus menerus antar anggota organisasi serta tidak terikat tujuan; (3) kelompok heterogen atau homogen, kelompok heterogen merupakan kelompok yang di dalamnya terdapat banyak perbedaan, sedangkan kelompok homogen merupakan kelompok yang di dalamnya terdapat banyak kesamaan; (4) kelompok interaktif atau nominal, kelompok interaktif merupakan kelompok yang anggotanya berhubungan secara langsung, sedangkan kelompok nominal merupakan kelompok yang anggotanya berinteraksi secara tidak langsung misalnya melalui perantara media seperti telepon, radio, internet dan sebagainya; (5) kelompok permanen atau temporer, kelompok permanen merupakan kelompok yang bekerja secara tetap dari waktu ke waktu dan memiliki struktur yang tetap tetapi terdapat pergantian kepengurusan misalnya OSIS, sedangkan kelompok temporer merupakan kelompok yang bekerja sesuai keperluan atau keinginan pada sewaktu-waktu misalnya kelompok belajar. Pada hakekatnya proses pembelajaran merupakan proses komunikasi antara pembelajar (guru) dengan pebelajar (peserta didik), pebelajar dengan lingkungan serta antar pebelajar dalam rangka perubahan sikap. Seseorang dapat dikatakan telah belajar apabila ia telah mengalami perubahan sikap. Sikap memiliki tiga unsur, yaitu: kognisi, perasaan, dan kecenderungan tindakan. Dalam proses pembelajaran sebaiknya setiap pembelajar menguasai konsep dan prinsip komunikasi agar terwujudnya kegiatan belajar yang maksimal. Dalam kaitannya dengan proses komunikasi ada beberapa prinsip yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam pembelajaran, antara lain: (1) sikap seseorang dibentuk oleh informasi yang ia peroleh atau yang ia hadapi, misalnya saat seseorang menerima informasi yang menyenangkan maka ia akan bersikap ceria dan begitu juga sebaliknya; (2) keterikatan seseorang pada kelompoknya banyak menentukan posisi sikapnya; (3) sikap seseorang mencerminkan sikap kepribadiannya, seperti misalnya bila seseorang sering berpakaian sopan dan rapi berarti orang tersebut memiliki kepribadian yang baik begitu juga sebaliknya,. Komunikasi pembelajaran dapat dikatakan gagal apabila komunikasi pembelajaran tidak menghasilkan proses pembelajaran yang intensif. Komunikasi pembelajaran dapat mengalami kegagalan karena disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: ketidaksepahaman antara pebelajar dengan pembelajar, kesulitan metode pengajaran serta lingkungan dan fasilitas belajar yang kurang memadai.

 

Jangan Lupa Comentnya yah kawand :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s